Sabtu, 30 April 2022

CATATAN PERJALANAN PULKAM PASCA CORONA 2022

 PENULIS : M.YUSNI.MS

Memang belum ada satu pengumuman pun tentang Corona Disaster dari Pemerintah Indonesia, bahwa kondisi di Indonesia sudah benar benar lepas dari wabah tersebut. Berita – berita tentang kasus Corona masih terdengar. Namun saya sudah bertekad bulat untuk pulang kampung ramadhan ini. Saya sudah ainul yaqin memutuskan untuk pulang. Sendiri atau pun bersama isteri dan anak anak. Masalah pulang kampung ini sudah juga saya diskusikan dengan mantan Pacar saya dirumah. Kayaknya dia nggak minat sama sekali untuk ikutan pulang kampung. Alasannya sih masuk akal, dia tidak mau jauh – jauh dari Samarinda, karena harus mengawasi dan mengontrol kondisi ibunya yang juga sudah renta. Kalau anak – anak yang mau ikut cuman satu, yaitu si bontot yang imut, Putri Syabila ( 7 tahun ). Pengen banget ikut. Tapi masalahnya si Mami nggak kasih ijin. Kecuali mami ikut baru Syabila juga ikut. Awalnya si Putri pertama mau ikut perjalanan ini. Namun lagi – lagi terkendala masalah vaksin. Karena dia sampai sekarang belum di vaksin sama sekali. Jadi takut – takut kalau mau ikutan pulkam. Akhirnya, jadilah saya yang berangkat pulang sendirian.

Awalnya saya mau berangkat tanggal 24 April 2022, gegara menunggu THR yang belum ada khabar, bahkan muncul isyu THR akan dibayarkan Pasca Hari Raya. Isyu ini sempat memunculkan komentar dan kericuhan di kalangan PNS dan Tenaga Honorer seperti saya. Karena belum ada juga kepastian, akhirnya saya memutuskan untuk “Meminjam dana” kepada salah satu Donatur. Dan Alhamdulillah saya pun mendapat pinjaman lunak.

Ketika saya mau berangkat dari rumah, saya berfikir, pasti terminal bis ini penuh dengan para pemudik, penuh dengan para calo, penuh dengan para pengantar dan sebagainya. Belum lagi nanti pasti ada pemeriksaan surat Vaksin dan boster. Dan banyak lagi hal hal negatif lainnya. Ternyata saya kecele. Karena begitu saya turun di depan terminal bis Sungai Kunjang, kondisi normal seperti hari – hari biasa. Tanpa pemeriksaan apapun. Saya beli tiket bis pun biasa saja, nggak pake antrean dan nggak pake lama. Cuman memang, ternyata bis jam pertama sampai jam 4 sudah penuh. Tinggal bis jam 18.00 yang tersisa. Artinya saya harus menunggu selama 4 jam di terminal. Mati Wolanda ! kata saya.

Tapi saya nggak kehabisan akal, karena terminal tidak jauh dari Bigmall, maka saya memutuskan untuk ngabuburit di Pusat Perbelanjaan terbesar di Samarinda tersebut. Jalan – jalan, muter-muter, lihat – lihat berbagai barang yang dijajakan disana. Sampai saya juga sempat nonton di XXI – kebetulan lagi ditayangkan film terbaru yaitu : ....

Tepat jam 16.20 saya meluncur kembali ke Terminal Bis Sungai Kunjang. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Bis saya pun tiba. Dan saya sempat khawatir kalau bisnya sudah lansia, ternyata yang datang masih muda belia. Bisnya masih baru. Dan juga sudah memiliki fasilitas WC didalamnya. Dan yang kerennya lagi full musik dan ada colokan hape diatas kepala semua penumpang. Ini baru mantap. Hape saya bakalan on terus. Karena bagi manusia di zaman milineal ini, hape jangan sampai mati, karena begitu pentingnya hape bagi komunikasi, hiburan dan informasi.

Tepat pukul 18.00, si Abang Sopir langsung menghidupkan mesin dan memulai perjalanan kami yang bakal kami tempuh selama berjam – jam kemudian.

Bismillah – ucapku dalam hati. Setelah hampir 5 tahun nggak pernah pulang kampung, akhirnya aku bisa pulang juga, kayak orang – orang lain.

Bis melaju santai menuju kota pertama yaitu Balikpapan. Kami pun melewati Jalan tol yang sudah mulai di operasikan di Kaltim. Ternyata hanya sekitar 1 jam lebih saja kami sudah sampai di Karang Joang Balikpapan. Kemudian lanjut menuju ke kapal Feri penyeberangan di Kariangau Balikpapan. Karena memang untuk melanjutkan perjalanan, kita harus menyeberangi teluk Balikpapan dengan diangkut menggunakan Feri ke PPU ( Panajam Pasir Utara ) yang saat ini lagi Viral di Indonesia.

Setelah sekitar 30 menit, bis akhirnya turun ke darat dan melanjutkan perjalanan menuju Banjarmasin. Saya pun membayangkan perjalanan yang panjang dan berliku. Karena memang seperti itulah perjalanan dari PPU menuju ke Tanah Grogot. Disini kelihaian Bis Sopir Banjar diuji. Dengan ukuran jalan yang sempit dan kecil. Bis yang besar besar. Jalur yang meliuk – liuk, turun dan naik gunung. Tapi jarang terdengar ada bis yang keterusan masuk Jurang atau menabrak pemukiman. Padahal bagi saya kelajuan bis cukup tinggi. Ketika dua bis berpapasan itu hanya sejengkal saja.

Persinggahan pertama kali adalah di sebuah warung makan prasmanan. Disini Sopir dan Penumpang bebas memilih makanan. Bahkan bisa double – double. Sekitar 5 tahun lalu, saya sempat kecewa dengan warung makanan yang puluhan tahun berkerjasama dengan pihak pengusaha. Memang banyak orang yang sudah mengkomplainnya. Dengan makanan seadanya. Sudah disiapkan dan diatur jatahnya. Walaupun murah dan sederhana, maksud saya ya agak layak lah. Nah disini, di warung yang sekarang kami singgah ini, benar benar maksimal pelayanannya. Para petugas penyaji juga cepat dan cekatan. Hampir semua jenis ikan ada disana, kecuali kelompok hewan bersungut dan bercapit dari laut. Saya benar benar kekenyangan dan puas. Apalagi ketemu ikan papuyu besar yang di goreng.

Wih benar benar mantap. Sampai – sampai saya harus menetralisir kondisi perut saya yang kekenyangan.

Sekitar satu jam kemudian, bis kembali meluncur....

Ketika bis hendak mencapai KM 16, tiba – tiba kenalan saya di Bis bernama Pak Santoso berkata : “nanti kalau sudah tiba, bapak ikut saya aja ya. Saya di jemput mantu saya.”

“ Oke siap”, jawab saya.

Jadilah saya kemudian ikut beliau. Karena beliau ini kebetulan tinggal di Brangas Alalak. Ini adalah kampung kelahiran saya. Disinilah kampung dimana Kakek dan Nenek saya bermukim selama ini hingga sampai meninggalnya. Begitupun Paman2 dan bibi2 saya. Namun semuanya sudah almarhum, kecuali tinggal satu isteri Paman saya yang tertua, dan sepupu – sepupu saya sebagian masih ada di kampung ini.

Begitu sampai di Alalak, saya langsung menyempatkan diri ke kuburan Kakek saya M.Said di Samping mesjid Alalak. Saya sempat lupa posisinya. Namun berdasarkan feeling saya mengikuti suara hati, dan menemukan kuburan beliau yang nampaknya kurang terawat.

Sebenarnya ada satu lagi kuburan yang saya nggak ketemu, yaitu kuburan Paman paling Bungsu saya. Namun tidak ketemu. Jadilah saya akhirnya berdoa saja dikuburan kakek aja. inilah asal usul nama marga dibelakang nama saya. Saya sering menulis nama saya Muhammad Yusni bin MS. Jika orang – orang sibuk menulis nama gelar kesarjanaan, maka saya lebih bangga menuliskan nama – nama orangtua, Kakek dan dan Datu saya. Kebetulan nama mereka bertiga jika diringkas cukup dua huruf : MS. Namun itu memiliki tiga nama besar : Muhammad Sani bin Muhammad Said bin Muhammad Sa’ad. Makanya saya singkat MS dibelakang nama saya tersebut.

Setelah itu saya berkunjung kerumah bibi yang masih hidup. Namun dari kejauhan rumah tersebut nampak lengang dan sunyi. Begitu pula rumah besar dimana kakek dan nenek dulu tinggal bahkan kosong dan sunyi. Dalam kebingungan, akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek kembali ke jalan raya.

Saya pun mencoba maxim, ketika sedang asik pencet – pencet, tiba tiba lewat bis Tayo, langsung saya stop, tapi lumayan jauh berhentinya, saya kejar sambil berlari lari dan langsung naik. Ini sejenis busway di Jakarta. Tetapi sedang masa uji coba sampai bulan Juni nanti 2022. Alhamdulillah Gratis. Bis ini nanti akan berhenti ke titik terminal pal 6 kata penumpang lain. Jadi akhirnya saya bisa menikmati keliling kota Banjarmasin.

Ketika kemudian bis memasuki terminal lama di Pal 6, saya langsung mencari minibus jurusan ke Kuala Kapuas. Alhamdulillah nemu. Tapi lumayan lama menunggu penumpang lain. Akhirnya Cuma dapat 3 orang, itupun kami disuruh nambah lagi. Ya udah, ketimbang nunggu lama – lama. Akhirnya saya putuskan untuk nambah ongkos.

Akhirnya saya melanjutkan ke Kota Kuala Kapuas. Kota Air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 11 Juli 2021

MENGAPA SAYA JARANG MENULIS DI BLOG ?

Semenjak adanya Facebook, saya jadi jarang menulis di Blog pribadi saya. Karena memang terkadang tulisan - tulisan saya kan pendek - pendek. jadi lebih banyak saya kirim pakai postingan saja lewat Facebook yang memang bisa untuk itu. Disamping itu juga, Facebook lebih interaktif dibandingkan dengan blog. namun kadang - kadang saya masih menulis juga khusus untuk Blog saya. Saya tidak pernah perduli, apa Blog saya dibaca orang apa tidak. Yang jelas disinilah saya menuliskan apa yang sedang saya fikirkan atau sedang saya rasakan. 

NALURI MANUSIA MENCARI NAFKAH

PENULIS : MUHAMMAD YUSNI MS ( NGARAN ABAH )

Karena kesibukan mencari nafkah di dunia ini, maka kita telah banyak melewatkan keindahan – keindahan alam yang telah diciptakan oleh Allah. Begitu banyaknya keindahan yang berada di sekitar kita, namun kita sama sekali tidak sempat menikmatinya. Kita begitu sibuk mengejar uang, uang dan uang. Jungkir balik, siang malam, kesana – kemari, mencari dan terus mencari. Betapa membosankannya hidup kita ini. Lihat saja gemerlapnya dunia artis. Memang mereka hidup dalam industry hiburan. Industry yang menciptakan berbagai macam hiburan untuk dinikmati oleh penduduk bumi. Mulai dari fashion, music, film, drama, dan berbagai variannya.      Seharusnya sebagai penghibur ( artis, penyanyi, actor, dll ) mereka harusnya lebih bahagia dari yang lain. Namun anehnya banyak kalangan industry hiburan ini yang mati bunuh diri, kebanyakan makan obat, hidup dalam keterasingan, di bully, dll. Justeru mereka sama sekali tidak menikmati semua kenikmatan yang telah mereka dapatkan. Ataukah mereka tidak mengerti untuk apa itu semua, sehingga justeru mereka mengalami guncangan jiwa, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Negeri modern seperti Jepang, sebagaimana dikatakan si Nose ( artis yang murtad keluar dari Islam ), pernah berkata, Jepang saja tidak butuh agama, bisa maju. Pada kenyataannya, di Jepang tingkat bunuh diri termasuk kategori tertinggi. Mengapa mereka memilih jalan tersebut? Yang jelas pasti kekosongan jiwa. Modernitas menciptakan sebuah realitas yang bernama kekosongan jiwa ( yang seharusnya diisi dengan Keimanan terhadap Agama ), mereka memang menikmati semua modernitas yang telah mereka ciptakan, namun mereka kehilangan jiwa mereka. Mereka tidak tahu untuk apa hidup, untuk apa menikmati semua itu, bahkan mereka sama sekali tidak memiliki tujuan pasti. Dan yang parahnya lagi mereka tidak tahu mau kemana setelah mereka mati.

BISNIS TANAH KAVLING DAN RUMAH KREDIT

PENULIS MUHAMMAD YUSNI MS Bisnis tanah kavling dan rumah kredit adalah dua bisnis yang masih bisa bernafas lega walau pun di saat pandemic corona 2020 – 2021 ini. Memang daya beli menurun, namun minat terhadap tanah kavling dan rumah kredit masih ditingkat yang aman. Hanya tinggal kemampuan dan upaya dari para owner usaha didalam melaksanakan promosi dan menyebarkan iklannya. Salah satu media yang cukup efektif sekarang adalah beriklan lewat Medsos di gemari oleh masyarakat saat ini. Jika dibandingkan kedua jenis memiliki perbedaan. Biasanya para pengusaha lebih suka jualan tanah saja daripada jualan tanah plus rumah. Memang jualan tanah plus rumah, baik itu cash maupun kredit, keuntungannya lebih besar, namun “ongkos” pembuatannya juga lumayan gede. Kalau tanah yang dijual atau di kreditkan, maka ongkos hanya sedikit. Paling biaya pengukuran, pembuatan jalur jalan kavlingan, pematokan dan pemapasan tanah jika bergunung atau berbukit. Beda dengan ongkos pembangunan perumahan. Biaya lebih besar dan berlipat – lipat. Oleh karena itu mengapa para pengusaha lebih suka jualanan tanah daripada jualan perumahan. Jika kita hitung – hitungan saja, anggaplah ukuran tanah 10 x 20 m dijual 50 juta. Dalam satu hektar anggaplah ada 40 kavling. Jika 40 kavling kali 50 juta = 2 milyar. Jika anda beli tanah 1 hektar dengan harga 100 juta. Berarti keuntungan anda jika di jual kavlingan : adalah 1 milyar 900 juta. Apa anda bukan langsung jadi jutawan ? Apalagi jika tanahnya – tanah milik sendiri. Oleh karena itu mengapa bisnis tanah kavling adalah bisnis yang cukup menggiurkan. Sedangkan bisnis rumah kredit atau pengadaan perumahan saat ini masih merangkak pelan – pelan. Memang hasilnya sangat menggiurkan. Bisa ratusan kali lipat dibandingkan sekedar kavlingan. Namun perlu biaya besar juga didalam pembangunannya. Jika seandainya saat ini tidak pandemic, mungkin bisnis ini juga menggiurkan bagi pelaku bisnis.

DILEMA COVID 19 IN MILENIUM AGE

PENULIS : MUHAMMAD YUSNI MS ( NGARAN ABAHKU )
Entah dengan bahasa apa kelak saya akan menjelaskan tentang sebuah periode yang dimulai Awal Januari 2020 sampai dengan Juli 2021, kepada generasi yang akan datang. Suatu periode yang penuh dengan kisah kematian yang menyebar dimana mana, disebabkan oleh Virus kecil dan tidak kasat mata. Ia menyebar hampir disemua negara, hampir semua negara besar mengalami serangannya. Bahkan virus ini sama sekali tidak memilih, siapa saja dihajarnya. Bahkan negara yang paling Super Canggih dibidang kebersihan dan kesehatanpun dikangkanginya. Semuanya menjadi kalangkabut. Dan akibatnya pun seperti efek domino. Akhirnya berdampak kepada perekonomian, sosial, Budaya dan Politik. Anak – anak generasi sekarang lebih mengenal Masker daripada kerudung Ibu Gurunya. Itu dikarenakan mereka lebih banyak belajar secara online. Mereka hanya mendapat tugas – tugas dari Ibu dan Bapak Guru secara online, bahkan belajar dan menuntaskan tugas secara online. Taman – taman bermain sepi. Sekolah – sekolah sepi. Kampus – kampus sepi. Semua kegiatan berpindah kerumah. Para penjual makanan, klontongan, sembako dan sejenisnya mulai berguguran seperti daun – daun. Warung – warung pinggir jalan pada di paksa tutup, begitu pula dengan tempat ibadah seperti mesjid, gereja dan Vihara. Semua kegiatan yang berpotensi mengumpulkan orang banyak di larang dan dibatasi. Yang menerima banyak, tapi ada juga yang menolak untuk karantina. Pada Fase awal tahun pertama 2020 – 2021, dunia terasa mencekam, setiap hari kita mendengar berita korban Covid berjatuhan. Lockdown terjadi dimana – mana. Di Indonesia terjadi kegaduhan dimana – mana. Mudik menjadi tema penting, masyarakat yang memaksa ingin pulang, berhadapan dengan para petugas gabungan yang menghadang di jalan – jalan. Sholat pun dipaksa di rumah masing – masing. Para Ulama dan Ustadz dan atau para Tokoh pun bersuara dimana – mana. Ada yang mendukung upaya Pemerintah, ada juga yang menentang dan membuat pernyataan yang membantah tentang kebenaran Covid. Karena Covid dianggap sebuah konspirasi besar. Kegaduhan ini telah memecah masyarakat kepada dua golongan besar. Ada yang percaya 100 % percaya Covid itu ada. Dan ada juga yang menolak dan menganggap semua itu hanyalah HOAX alias konspirasi global. Bersambung.....

Selasa, 06 Oktober 2020

DUNIA TAK SELEBAR DAUN KELOR

 By : M.Yusni.MS

Namaku Irfan Handoko, biasa dipanggil singkat Irfan. Aku saat ini masih duduk di bangku kuliah semester III, jurusan Sistem Informasi di sebuah Kampus ternama di Samarinda. Jadwal kami kuliah, biasanya mulai jam 16.30 sampai malam jam 21.00. Kalau dosennya lagi mood, biasanya bisa sampai jam 22.00, baru bubar. Tapi kalau lagi pas datang baiknya, masuk cukup 15 menit, abis itu sudah pulang.

Dan hari ini, hal itu terjadi, alangkah senangnya kami langsung bisa pulang. Bukan apa – apa sih, para mahasiswa yang ada dikelasku adalah kelas pekerja. Mereka rata – rata kerja kalau siang. Sehingga untuk turun kuliah, adalah sisa – sisa energy saja. Begitu pula aku, disamping bekerja sebagai guru, aku juga seorang admin di sebuah sekolah tingkat SLTA. Bayangkan energy yang harus aku keluarkan.

Sebenarnya aku tidak ingin kuliah lagi. Namun karena tuntutan sebagai seorang guru, aku harus melanjutkan kuliah lagi. Karena sebenarnya beberapa tahun sebelumnya, aku sudah kuliah di jurusan Manajemen Pemasaran. Kemudian karena sebuah keadaan, aku akhirnya menjadi guru di sebuah sekolah tingkat SLTA nun jauh di perbatasan Kutai Kartanegara dan Samarinda. Persyaratan sebagai seorang guru haruslah S1, jadilah aku terpaksa kuliah lagi. Pilihannya Cuma dua, kuliah lagi atau berhenti kerja.

Ketika sedang asik memasukkan buku dan pulpen kedalam tas ransel, tiba – tiba HP-ku bordering nyaring dengan nada jadulnya. Ketika kuangkat ternyata terdengar suara perempuan. Nomor ini sama sekali tidak terdaftar dalam kontakku.

“ Siapa ini “ Tanyaku penasaran.

“ Aku, masa kamu lupa dengan suaraku.” Tanya suara di seberang sana.

“ Memang kayaknya aku kenal suaramu. Tapi sumpah, aku benar – benar lupa siapa ini?” kejarku lagi. Aku kemudian melangkah keluar dari kelas.

“ Hay,” Sapa Silvi, teman satu kelas.

Aku memberi kode say hello juga dengan bahasa isyarat.

“ Malam ini ada waktu, nggak? “

“ Ada.” Sahutku makin penasaran.

Suara wanita itu kemudian terdengar membisikkan sebuah tempat yang lamat – lamat aku ingat, namun dulu sering kudatangi bersama seseorang.

“ Satu jam ya.”

“ Oke.”

Setelah bertarung dengan debu, asap motor dan gelapnya malam, akhirnya aku sampai di depan sebuah Café di bilangan Jalan Juanda. Suara Ariel Noah terdengar mengalun menyambut langkah kakiku ketika masuk kedalam café tersebut. Di dalamnya hanya Nampak beberapa orang pengunjung. Dan di meja ujung agak dekat jendela kaca, aku melihat seseorang yang selama ini sudah “belajar” untuk kulupakan, namun tetap melekat jauh di bawah sadarku. Wajah itu adalah milik Wulan. Mantan yang ke …. entah keberapa.   

Tapi mantan yang satu ini, memiliki kisah berbeda dengan mantan – mantan lainnya. Hubunganku dengan Wulan cukup bertahan lama. Hubunganku dengannya pun aneh. Karena aku sendiri sudah punya pacar lain. Sedangkan Wulan juga sudah punya tunangan dan juga pacar gelap lainnya. Tapi anehnya, hubungan kami tetap terjalin bagaikan sepasang kekasih sejati.

Wulan sudah kukenal sejak aku masih SLTA. Awalnya kami hanya punya hubungan sekedarnya. Alias hubungan antar sesama anggota sebuah organisasi pelajar yang sama – sama kami ikuti. Namun hubungan itu makin lama makin terjalin kuat. Sehingga aku kesulitan untuk meninggalkannya.

Hubungan kami akhirnya putus, ketika aku dan dia terlibat pertengkaran hebat, dan aku kemudian memutuskan untuk berpisah. Karena aku sudah tidak bisa lagi memahami hubungan kami. Bagaimana dia bisa mencintai aku, tetapi dia juga tetap bersama tunangannya dan satu orang pacar gelapnya. Disuruh memilih ia bingung. Semenjak itu aku dan dia putus hubungan.

Karena aku kemudian sibuk kuliah di sebuah kampus di bilangan jalan juanda.

 

 

Jumat, 04 September 2020

PEDAGANG LAPAK ONLINE

Darah pedagang mungkin saya dapat dari Ayah saya yang Urang Banjar, sedangkan darah seni saya dapat dari Mamah saya orang Kuala Kapuas Kalimantan Tengah. Nampaknya darah pedagang lebih dominan daripada darah seni, karena saya lebih banyak berkecimpung dibidang perdagangan. Tetapi saya bukan jenis pedagang tradisional, karena saya lebih banyak berdagang secara online. Barang - barang yang saya jual pun rata - rata bukan barang saya sendiri, namun punya para klien saya. Intinya kalau anda punya Kulkas mau di jual, maka saya akan menjual lewat medsos, jika udah laku, maka saya akan menerima fee hasil penjualan tersebut. Penghasilannya lumayanlah untuk beli jajanan.  Item termahal yang pernah saya jual adalah sebuah genset dengan harga hampir 10 juta. dan yang paling rendah sekitar 100 ribu.

Jumat, 31 Juli 2020

NGOMONGIN TENTANG DILEMA KEMISKINAN

BY : MUHAMMAD YUSNI MS

Sebenarnya Indonesia ini masuk Negara dengan Rakyat masuk kategori apa ? Dibilang banyak orang miskin, mengapa kita marah - marah. Membanting kursi dan meja. Jangan sibuk menyalahkan kinerja Pemerintah. Pemerintah sudah maksimal membuat berbagai sistem pembangunan dan upaya mensejahterakan rakyat Indonesia. Dibilang rakyatnya kaya - kaya, loh banyak dilapangan kita temukan kenyataan yang pahit. Jadi sebenarnya dimanakah masalah kita ini ?

Sumber daya alam kita sangat luar biasa. Ada berbagai tambang. Mulai tambang emas, nikel, batubara, timah, gas dan minyak. Rasa - rasanya tidak ada negara yang memiliki keragaman sumber daya alam dan sumber daya hayati seperti Indonesia. Dibilang negara kecil, tetapi kita memiliki ribuan pulau. Dibilang negara besar, nggak juga. Lalu mengapa masih ada rakyat kita yang miskin dan kurang sejahtera ?

Kalau saya sih, nggak risau banget. Mengapa ? karena yang namanya kemiskinan adalah sebuah elemen yang pasti ada dalam pembangunan sebuah negara maju dan berkembang. Apalagi dengan sistem kapitalisme modern. Sebagian besar kekayaan dikuasai segelintir manusia. Ada trah jutawan, pasti ada trah masyarakat pekerja. Dan ada pula trah sudra atau trah masyarakat miskin.

Banyak sebab mengapa muncul rakyat miskin ini. Bisa jadi adalah sumber daya manusia yang lemah, tidak berpendidikan dan menganut paham syahwat lemah ( tidak ada semangat hidup untuk sukses ), hanya mengharapkan pemberian orang lain. Atau memang kalah dalam pertarungan perebutan pekerjaan atau sumber daya alam. Bisa juga mungkin kalaupun bekerja atau berpenghasilan, namun tidak mencukupi pengeluarannya.

Kelas Miskin ini akan sulit keluar dari lingkarannya, jika tidak dibantu oleh pihak lain yang lebih mampu. BIsa berbentuk bantuan, sumbangan, atau memperkerjakan mereka dengan gaji atau upah secukupnya. Namun masalahnya kelas orang miskin ini memang akan selalu ada, sebagai dampak dari perkembangan sebuah pembangunan. Mereka akan selalu ada dan tidak akan musnah.

Sejak zaman Nabi Muhammad hidup saja, orang miskin sudah ada. Bahkan orang miskin mendapat perhatian sangat luar biasa dari Nabi Muhammad. Tetapi orang miskin di zaman Nabi berbeda dengan orang miskin di zaman kita sekarang ini. Kalau orang miskin di zaman kita, justeru jauh berbeda masalahnya. Karena ada kemiskinan disebabkan oleh memang nggak punya pekerjaan atau harta benda atau modal. Kemiskinan yang disebabkan oleh malas berusaha. Kemiskinan yang dipaksakan, kemiskinan yang karena dirampok habis harta bendanya. Kemiskinan yang diciptakan sendiri, misalnya karena memang mau menyamar jadi pengemis atau gelandangan untuk mengundang rasa iba orang lain. Jadi banyak faktornya.

 

Namun Nabi selalu menginsyaratkan bahwa Tangan yang diatas selalu lebih baik daripada tangan dibawah. Artinya kemiskinan memang sebuah efek dari kehidupan, namun jangan lalu kita sengaja memiskinkan diri dan mengemis pada orang lain. Kira - kira itulah yang diisyaratkan oleh Nabi.

 

Kemiskinan adalah tanggung jawab kita semua, bagaimana cara mengentaskannya. Pemerintah dan para pemimpin pastinya punya program, cara dan solusinya. Hanya saja, pasti ada program yang berhasil dan ada juga terkendala dilapangan.

Contoh sederhana program BPJS. Menurut saya program ini sangat berhasil membantu masyarakat golongan yang tidak mampu. Saya sempat merasakan dampak yang sangat mengerikan dari “gara - gara tidak punya kartu BPJS”. Memang pada saat membayarnya kita kayaknya seperti berat sekali, dan banyak nada nada curiga lainnya. Intinya keberatan. Apalagi mendengar BPJS naik iurannya, banyak yang panas dingin dan meriang. Bahkan ada juga yang berhenti dari program ini karena tidak kuat bayar. Contoh saja iuran kelas III, sekitar 42.000 / orang. Kalau anggota keluarga 5 orang saja x 42.000 = 210.000 / bulan yang harus kita bayarkan. Yang anehnya kalau Rokok si Abah merk Magnum harga 20.000 x 30 hari = 600.000, sama sekali tidak merasa berat ya.

Saya adalah saksi hidup, bagaimana kartu BPJS ini sangat sakti jika ada keluarga kita yang sakit dan masuk rumah sakit. Selama hampir 10 hari di rumah sakit RSUD. AWS Samarinda, banyak hal yang saya pelajari dan saya menyadarkan saya, betapa mahalnya harga “Sehat” tidak sebanding dengan nilai iuran yang harus saya bayar setiap bulan. Saya sampai menangis berapa kali, yang saya tangisi bukan nasib saya atau nasib anak saya. Tetapi menangisi nasib bayi - bayi yang sakit dan terpaksa masuk di Ruang PICU. Dengan berbagai penyakit aneh dan baru saya dengar nama - nama penyakit tersebut. Mereka dibiayai dengan biaya dari Kartu BPJS. Gratis. Padahal saya sendiri sampai menganga mendengar rincian biaya rumah sakit dan pengobatan, belum biaya tenaga medis. Salah satu orangtua bayi sempat berkisah dengan saya, bahwa dia sudah hampir satu bulan di rumah sakit. Biaya anaknya sudah menyentuh diatas 50 juta. Tapi Alhamdulillah punya kartu BPJS. Bayangkan kalau tidak ada kartu BPJS, kemana mencari uang sebesar itu. Saya saja yang nggak pakai kartu tersebut cuma sekitar 10 hari, sudah sebesar kisaran 30 juta.

Begitu ada kesempatan, saya langsung mendaftarkan seluruh anggota keluarga saya ke BPJS. Ambil yang kelas III. Yang penting siaga, sebelum terkena musibah kesehatan lagi. Dan Alhamdulillah sekarang iuran BPJS saya dibayarkan oleh Pemerintah lewat Instansi tempat saya berkerja sebagai tenaga honorer. Saat ini hutang saya kerumah sakit masih saya cicil begamatan. Mudah - mudahan cepat lunas.  

 

 

 

 

Selasa, 28 Juli 2020

SISTEM TUGAS ONLINE PAKAI BLOG

Penulis : Muhammad Yusni MS ( Mantan Tenaga Pendidik di SMK Muhammadiyah Loa Janan )

Dulu ketika saya masih di sebuah SMK di Daerah Kukar, saya sudah biasa memberi tugas - tugas kepada para siswa dan siswi saya secara Online. Dan saya memilih dengan menggunakan blog dalam memberikan pelajaran atau tugas - tugas online saya. 

Melihat kondisi rekan - rekan sesama guru di Zaman Pandemik Covid19 dalam memberi tugas begitu ribet dan susah. Pertama : menggunakan Whatsapp dalam mengirim tugas tugas online yang harus dikerjakan. Memang kelihatannya mudah, sekali kirim, peserta didik yang sudah terkumpul dalam satu Group langsung menerima dalam sekejap. Yang bikin sebel adalah, ketika jumlah murid dalam 1 kelas / group misalnya berjumlah 30 orang, maka sebanyak itu pula akan muncul berbagai pertanyaan atau tanggapan balesan. Misalnya : kerjakan semua kah, Pak? Dicatat kah pak ? Boleh pakai kertas folio kah pak, dan banyak lagi, yang mau tidak mau harus di bales sama gurunya. 

Semakin menambah ruwet lagi ketika siswa - siswi mengirimkan jawaban atas soal - soal yang dikasih online tadi. karena jawaban harus di foto dan dikirim kembali ke HP sang guru pengirim. Bayangkan yang terjadi kemudian, HP si guru mulai berbunyi terus menerus. Jika siswanya ada 30 orang, berarti akan ada 30 lembar foto dikirim pada hari itu. Jika si guru ngajarnya tiga kelas, berarti 90 foto masuk whatsapp guru. Mulailah gurunya pusing - pusing kepala. Jika dalam seminggu ada 5 hari belajar, berarti jika satu kelas siswa 30 x 5 = 150 lembar jawaban. akhirnya hp si guru Hank. Paketnya habis. Gajian belum cair. mau cari wifi gratisan bingung. itulah yang terjadi di mayoritas guru zaman pandemik ini. Itu belum diperiksa satu satu loh tugasnya.

Ada juga yang pakai Classroom. Kalau ini agak lumayan jika pintar merancangnya. Tetapi bagaimana dengan guru - guru yang nggak ngerti bikinnya. Tambah puyeng lagi. 

Ini saran saya, cobalah menggunakan Blogger atau Blogspot. Sudah mudah dibuat, dan gratis selamanya. Loh kok bisa. Ini pengalaman di masa lalu saya sebagai seorang guru.

Pertama : Di dunia nyata - saya suruh dulu para siswa membeli buku besar atau buku jurnal, banyak dijual di toko - toko buku atau fotocopian. Untuk apa ? Semua tugas - tugas akan dikerjakan di buku tersebut. tugas anak - anak harus sistem tulis pakai tangan sendiri. Tidak boleh di fotocopi. ini menghindari anak - anak yang suka copy-paste. 

Kemudian anda harus membuat blog dan mengisi soal - soal dan pelajaran online di sana. cara pembuatannya anda bisa buka di Link berikut : 
https://dailysocial.id/post/cara-membuat-blog-gratis-di-blogger-com
atau di You tube : https://www.youtube.com/watch?v=e1LXIDywkTg

nah kalau blognya udah jadi, silahkan anda posting tugas - tugas online anda. setelah jadi, tinggal anda catat link blog anda dan share deh di WA Group. Nah semua tugas harus di jawab di buku jurnal tadi, tidak perlu dikirim via WA. Tinggal atur, mungkin setiap satu minggu, anak - anak membawa jurnalnya ke sekolah untuk di nilai dan di cek oleh sang gurunya.

mudah bukan... ? Ini adalah link contoh blog saya dulu ketika memberi tugas - tugas online untuk murid saya : https://yoesny-terminaltugas.blogspot.com