Senin, 31 Mei 2010

Kembali ke Pangkal Jalan

Banyak orang yang tetap melanjutkan perjalanan hidupnya, padahal jalan hidup itu bukan ia inginkan dan ia harapkan. Banyak manusia yang seperti ini. Tetap melangkah walau penuh beban dan penyesalan. Aku takmau seperti itu, aku harus segera kembali ke pangkal jalan, dan kembali memulainya. Kembali membangunnya lagi dan kembali merintis lagi.

Senin, 03 Mei 2010

LULUS DAN TIDAK LULUS

Sebenarnya kelulusan memang penting, sebagai standar kemampuan seseorang di dunia pendidikan. Namun jika sebuah kelulusan dianggap terlalu sakral, maka saya kurang setuju. karena bagi saya arti Tidak lulus, hanyalah sebuah keberhasilan yang tertunda. Atau ibarat menanti Taxi lewat. Kalau belum cocok, masih ada Taxi berikut yang akan lewat. jadi jangan be affraid apabila anda tidak Lulus. Takutilah Ujian terbesar yaitu Test dari Allah yaitu : Lulus masuk surga atau tidak lulus.......

Senin, 08 Maret 2010

KELUARGA DEKAT

Terkadang kita tidak sadar, bahwa kita memiliki keluarga dekat. Karena terfokusnya kita pada Ayah dan Ibu, kakak atau adik. Kita lupa kalau kita punya Paman dan Bibi. Punya adik sepupu atau kakak sepupu. Kita terkadang menganggap Ayah, Ibu, kakak dan Adik adalah keluarga yang kita miliki. Padahal diluar mereka kita punya paman, bibi, sepupu, ipar, kakek dan nenek. Sehingga dalam beberapa hal kita seringkali mengabaikan keberadaan mereka. Padahal mereka adalah keluarga dekat kita. Kalau kita melihat babak kehidupan Sang Nabi Agung Muhammad SAW, beliau sangat dekat dengan Paman dan bibi, sepupu, dan kakeknya. Beliau tahu persis apa itu yang namanya keluarga dekat. Hanya saja tidak semua anggota keluarga dekat itu memihak kepada Islam yang dibawanya. Sehingga memusuhi beliau bagaikan menemukan musuh di tengah padang tandus. Namun beliau tetap menjaga sikap beliau terhadap para keluarga dekat beliau.
Dengan kondisi dunia saat ini yang sedang menuju ke Trend individualitas alias anti keluarga, maka bisa kita bayangkan seperti apa dunia yang sedang kita huni saat ini. Gerakan kumpul kebo alias hidup tanpa ikatan pernikahan. Menikah tidak mau punya anak. Bahkan ada perempuan menikahi perempuan. Lelaki menikahi lelaki. Disatu sisi mereka tak ingin sendiri. Disisi lain sifat individualistik merekat erat. Dengan kondisi demikian apa mungkin terjadinya penciptaan keluarga yang lengkap ? Mungkinkah terjalin hubungan antar anggota keluarga dekat ? Semerawut kayak benang kusut.
Untunglah masih ada beberapa bangsa yang masih menghargai pentingnya keluarga. Masih menghargai paman dan bibi, masih mengenal kakek dan nenek. Masih menemui sepupu dan keponakan. Syukurlah.

SERUMPUN TAPI TIDAK SEHATI

Bermacam – macam sudah upaya menyatukan hati antara Malaysia dan Indonesia, mulai dari kerjasama antara Pendidikan dan kebudayaan. Sampai kerjasama ekonomi dan teknologi. Namun tetap saja kedua Negara serumpun ini tetap susah untuk bisa sehati. Masalahnya selama beberapa tahun terakhir ini banyak sekali masalah – masalah yang timbul. Mulai dari banyaknya TKI yang diusir dari Malaysia. Penyiksaan terhadap tenaga TKW dan seabreg kisah sedih lainnya. Yang masih kuat diingatan kita seperti kasus Manohara, rebutan pulau sipadan dan ligitan. Sampai upaya klaim terhadap asset – asset budaya Indonesia.
Manis dibibir lain dihati, kalau kita menonton Titian Muhibah di TVRI, lain di permukaan lain pula dibawah. Kalau kita buka milis – milis di Internet, para putera – puteri Indonesia dan putera – puteri Malaysia itu malah saling sumpah, maki dan umpat. Bahkan sampai kata – kata yang tak pantas diucapkan. Di Indonesia sendiri bermunculan organisasi – organisasi anti Malaysia, ganyang Malaysia sampai ada sukeralawan yang siap tempur keperbatasan Malaysia.
Padahal darah kita sama, darah kita darah yang sama dengan Patih Gajah Mada. Kita sama – sama orang Asia. Mata yang sama, kulit yang sama, namun anehnya Hati kita tidak sama.
Setiap hari kita terpaksa nonton di TV, terpaksa nonton di Internet, kepulangan Para TKI yang mati sia – sia karena di siksa oleh majikannya.
“ Itulah nasib bangsa kuli” kata seorang milis Malaysia Maya yang menggubah lagu Indonesia Raya. Padahal seandainya dia ingat, darimana Bangsa Malaysia belajar pertama kali ketika baru bangkit dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Atau tepatnya kacang lupa kulitnya.
“ Betul. Betul. Betul. “ kata si IPIN.

APAKAH ADA KORELASI ANTARA

APAKAH ADA KORELASI ANTARA
GELAR SARJANA DENGAN KESUKSESAN
( Kalau ada tolong kasih tahu saya )

Apakah memang perlu gelar kesarjanaan itu agar hidup ini sukses. Barangkali hanya segelintir orang yang berani mengatakan tidak perlu. Karena segelintir orang itu adalah orang – orang yang sukses, namun tidak memiliki bekal kesarjanaan yang layak. Bahkan ada yang SD atau SMP aja tidak lulus, namun justeru menjadi orang sukses. Barangkali dalam kajian kali ini ada dua hal yang akan saya bicarakan, yaitu Gelar kesarjanaan dan arti sukses yang seperti apa ? Apakah memang keduanya memiliki korelasi ataukah justeru tidak ada korelasinya.
Kalau Insan ( manusia ) yang hidupnya Wajar, barangkali kita bisa merunut sebagai berikut : 1. Lahir kemuka bumi, 2. memasuki dunia pendidikan : TK – SD – SMP – SMA – Perguruan Tinggi – Mencari Pekerjaan atau membuat Pekerjaan – sukses ( Sukses ekonomi – sukses keluarga – sukses di Masyarakat ).
Sedangkan Insan yang hidupnya tidak wajar : 1. Lahir kemuka bumi ( bisa dalam keadaan kaya atau miskin ), 2. memasuki dunia pendidikan ( bisa lurus, bisa tidak tentu alias macam – macam : bisa tidak lulus atau tidak naik, bisa pula tidakbisa meneruskan karena faktor biaya ). 3. latar belakang yang tidak wajar tadi bisa berdampak kepada si Insan tadi, jika ia lalu tidak menyerah, alias berfikir kreatif dan sejenisnya, maka Insan tersebut bisa saja lalu membuat lapangan pekerjaan baru atau memiliki ide kreatif yang luar biasa, sehingga kemudian ia justeru bisa sukses tanpa gelar.
Sekarang tinggal kemana muara akhir perjalanan seseorang, memang gelar kesarjanaan itu perlu dan penting, khususnya jika ingin mendapatkan pekerjaan yang layak disebuah perusahaan yang besar. Yang pada gilirannya bisa meraup uang yang banyak. Namun tidak menutup kemungkinan seseorang yang tidak punya gelar atau putus sekolah justeru mampu sukses dibandingkan dengan yang satunya tadi. Kalau yang satunya tadi justeru berkerja di Perusahaan, yang satunya malah menjadi pemilik perusahaan.
Saya pernah menemukan sebuah tulisan tentang perbedaan antara orang pintar dan orang bodoh ( walaupun tulisan itu ditulis dengan gaya bercanda , tapi menurut saya benar jika dilihat dialam nyata ). Salah satunya adalah : orang pintar berfikir untuk mendapatkan uang, sedangkan orang yang bodoh tidak perlu berfikir karena ia bisa membayar orang pintar untuk berfikir.
Sungai Kunjang , 20 Oktober 2009

TENTANG USIA YANG TERUS BERDETAK

Tanpa kita sadari, detik terus berjalan. Jam terus berdetak. Hari demi hari kita lalui. Bulan demi bulan kita hitung. Tahun demi tahun menambah usia tanpa kita sadari. Kedewasaan merangkak terus, pengetahuan terus bertambah, pengalaman makin banyak. Sikap dan sifat berubah seiring usia.

Di usia saya yang sudah 38 tahun ini, saya masih bertanya – Tanya, apa aja sih yang telah aku lakukan selama ini. Ternyata belum banyak berubah, kecuali usia yang bertambah, pekerjaan yang makin banyak, anak – anak yang mulai dewasa dan banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

Tanpa terasa aku duduk lunglai dibawah pohon Palm, semua kilasan – kilasan perbuatanku selama beberapa tahun terakhir, lebih banyak yang tidak menghasilkan dan menambah pundi pahala. Aku masih kurang persiapan bekal untuk mati. Aku terlalu sibuk mencari bekal untuk hidup dan bukan untuk bekal mati.

Ibadah dan zikir yang dulu selalu aku lakukan, kini mulai surut dan hanya sekedar mengejar setoran. Sibuk dan sibuk mengurus orang lain, sementara diri ini kurang diurusi.

Mudah – mudahan di usia 38 ini aku bisa merubah dan mereset ulang semua system dan program yang tertanam didalam diri ini. Semua orang berfikir untuk baik, aku rasa itulah programku ini. Aku ingat apa yang dikatakan sang baginda Nabi, muslim yang sama antara hari kemarin dengan hari ini adalah seorang muslim yang merugi.

Sungai Kunjang 10 November 2009.