Senin, 09 Maret 2009

Jalan Panjang Menuju Perubahan

By : Muhammad Yusni

Kalau kita menerima Demokrasi, maka konsekwensinya adalah kita harus bisa menerima perbedaan. Yang namanya duduk sama – sama dengan berbeda – beda tabiat, sifat, sikap, pendidikan, status, jabatan dan sebagainya, ya harus siap. Inilah Republik Indonesia. Kita sudah sepakat menerima demokrasi sebagai pilihan politik, maka kita harus menerima kenyataan, munculnya beratus – ratus parpol, aliran dan berbagai macam paham dan kelakuan. Ya kita harus menerima semua itu.

Kalaupun kemudian di DPR ada yang baik dan buruk. Ada yang Alim dan ada yang korupsi. Ya itu sebuah konsekwensi. Khan tidak semua orang yang baik, idealis dan taat beragama yang masuk ke meja leglislatif. Dengan sistem yang ada sekarang alias suara terbanyak justeru membuka peluang bagi yang duitnya banyak dan mampu untuk menjadi pemenang suara terbanyak. Tidak perduli si punya uang tadi alim atau tidak. Pintar atau tidak. Bijak atau tidak. Yang penting dia mampu dan membiayai kampanye, bisa mengerahkan banyak tim sukses. Bukan tidak mungkin orang yang ber-uang justeru yang menang. Sementara Caleg seperti saya yang benar – benar calon dari kelas bawah, sama sekali tidak punya uang dan modal.

Jika dihitung – hitung barangkali harta saya bisa dihargai dibawah 10 juta, dibandingkan dengan Modal calon – calon yang bermodal, saya jelas kalah jauh. Tapi yang membuat saya nekad maju adalah, saya fikir saya juga manusia yang seperti mereka tadi. Mereka makan nasi, saya juga makan nasi. Mereka minum air putih saya juga minum air putih. Mereka masuk kemesjid lepas sandal, begitu pula saya.

Kenekadan saya maju adalah sebuah keinginan untuk menunjukkan kepada masyarakat terutama rakyat akar rumput. Para pemulung, para penjual kaki lima, para pedagang emperan, para pendorong gerobak, pengemis, pelayan dan para tukang sapu, bahwa rakyat juga bisa maju tanpa modal dan uang. Saya yang berasal dari kelas bawah, dulunya adalah tukang sapu di Akper Muhammadiyah, tukang bikin kopi di STIE Muhammadiyah. Kalau enggak percaya silahkan tanyakan sendiri. Salah satu saksi yang masih hidup adalah mister Budi Nursalim, Pemred Ekstrem, yang cukup lama mengenal saya. Atau mas Syaukani AE. SE caleg nomor 2 dari Partai Matahari Bangsa Dapil Samarinda, juga adalah saksi hidup, karena saya dan beliau sama – sama kerja di Akper Muhammadiyah. Saya jadi tukang sapu, beliau jadi sopir bis.

Perjalanan hidup saya benar – benar merangkak dari bawah. Ketika SMA saya ikut teman mengepel dan menyapu di RS Umum ( yang kebetulan pada saat itu Direkturnya masih dr. Jusuf SK ). Nebas rumput dirumah – rumah dokter. Bahkan jadi pemulung besi tua. Kemudian ketika lulus SMA, saya lalu mencoba usaha pembuatan mainan anak – anak TK, berlanjut kemudian kerja di Akper Muhammadiyah menjadi tukang sapu dan bikin Teh bagi para dosen dan karyawan. Malam hari saya dan isteri membuka kantin di STIE Muhammadiyah sambil membuatkan kopi bagi dosen.

Saya dan keluarga lama tinggal menumpang di Asrama STIE Muhammadiyah, hidup dalam keadaan serba kekurangan dan ketiadaan uang. Sampai akhirnya kami disuruh keluar dari sana. Dengan tanpa kerja dan tanpa tempat tinggal, kami sempat menumpang tinggal beberapa hari di Rumah mertua. Sampai akhirnya saya diterima kerja di SMP Muhammadiyah 2 sebagai karyawan dan menyambi sebagai kebersihan. Dan Alhamdulillah sampai sekarang saya masih berkerja di tempat tersebut.

Mengapa semua ini saya ceritakan, bukan mau membuat anda simpati. Tetapi saya mau sampaikan bahwa, jika kita ingin berubah, maka harus terus mencoba dan terus mencoba untuk merubah nasib. Sebagaimana pesan Seorang Ibu Angkat saya, Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya.

Karena itu saya berfikir, kalau kita merasa kesal dengan orang – orang yang mengkhianati amanat kita sebagai wakil rakyat, kenapa enggak kita sendiri yang maju. Kalau kita jengkel lalu pergi meninggalkan gelanggang, maka yang naik jelas bukan orang – orang yang memiliki kepedulian pada rakyat, nama rakyat justeru Cuma dijadikan bahan jualan. Ya seperti teriakan tukang kerupuk, “ Rakyat – rakyat, seribu tiga, seribu tiga.”

Karena itu saya ketika pernah dalam suatu kesempatan seminar yang membahas tentang rakyat, saya sempat sewot karena istilah rakyat. Ketika mahasiswa berteriak tentang kepentingan rakyat, maka pertanyaannya rakyat yang mana ? Rakyat yang mana sebenarnya yang kita bela. Bukankan para pejabat yang koruptor termasuk jajaran istilah “ Rakyat “. Lalu rakyat yang mana sebenarnya yang kita bela ? Yang kita wakili ?

Ketika Pejabat bicara atas nama rakyat, ketika para caleg bicara atas kepentingan rakyat, ketika pemerintah atas nama rakyat, maka lalu rakyat harus mengatasnamakan atas nama siapa ?

Seorang sahabat saya dari salah satu Parpol dalam sebuah acara silaturrahmi yang kebetulan mantan Demonstran 98 menjawil saya dan berkata : “ Kemana aja ikam ( kamu ), orang yang menikmati hasil reformasi, kok ikam kada umpatan ( enggak ikutan ) menikmati, Yus.”

Waktu itu saya Cuma senyum – senyum. Ia ya….. tapi saya yakin, saya dan teman – teman saya yang sama – sama berlumuran keringat, darah dan airmata di Tahun 1998, sama sekali tidak punya niat ketika itu untuk mengejar balasan setimpal. Kami berjuang murni berjuang, bukan karena terpikir dapat apa atau insentif apa. Dan itu terbukti, hanya segelintir saja diantara kami yang kemudian bisa menikmati kue reformasi. Kebanyakan dari kami justeru hidup kembali ke tengah masyarakat. Karena itu, sekali lagi fakta bahwa kami benar – benar membela rakyat tanpa minta balasan. Kalaupun kemudian kini banyak orang yang menyalahkan mahasiswa yang menggerakan reformasi, karena setelah 10 tahun berjalan, sama sekali tidak ada perubahan. Semua yang diamanatkan oleh reformasi, semuanya tidak berjalan. Kita berjalan ditempat, kata seorang teman saya yang kini jadi tukang ojek.

Teman – teman mantan 98 yang berjuang lewat leglislatif seperti : Dwi Purnomosidhi ( PAN ), Sudarno SE ( PAN ) , Sudarno. SE ( PDIP ) dan lainnya. Ada juga yang lewat LSM kayak Ocha, Senci Han SK dan Cornelius Tuah. Saya yakin mereka semua tetap komitmen membela Rakyat.

Tapi yang namanya merubah nasib rakyat seperti membalik gunung, perubahan masih jauh, perjalanan masih panjang. Rakyat masih berada ditempatnya bersama seabreg permasalahannya.

Ironis memang.
Loa Duri, 1 Maret 2009

Rabu, 19 November 2008

TINGKAT STRESS MENINGKAT DIKALANGAN MASYARAKAT

Indonesia kini beda dengan Indonesia dulu. Tingkat Stress sangat tinggi. terutama dikalangan masyarakat kota. manusia tiba - tiba mudah marah dan terbakar. masalah sedikit saja langsung main tampar dan pukul. seolah masyarakat tiba - tiba berubah menjadi bangsa yang beringas. entah kemana larinya sifat ramah tamah kita. mudah - mudahan bangsa ini segera sadar dan kembali menjadi bangsa yang ramah tamah dan selalu mengutamakan musyawarah dalam berdemokrasi.

Selasa, 11 November 2008

SUKSES ADALAH SUATU PERJALANAN DAN BUKAN TUJUAN AKHIR

Sebuah perjalanan Imajiner tanpa sekat ruang dan waktu. Begitulah rasanya ketika kita menelusuri halaman demi halaman dari sebuah buku. Dia memperkaya pemikiran dan gagasan kita. Berbahagialah mereka yang mencintai dan gemar membaca sejak kecil. Mereka bisa memperoleh beragam inspirasi untuk menjalani kehidupan seperti yang mereka cita – citakan.

Senin, 03 November 2008

DILEMA SUKU ASIMILASI

By Muhammad Yusni
Sedikit orang yang tahu dari suku mana diriku berasal, kebanyakan meleset daripada yang benar. Ada yang menduga saya adalah orang Jawa, ada juga yang menyangka orang Bugis, Menado, bahkan orang Medan. Tapi saya tidak pernah mempermasalahkan saya dari suku mana, kalaupun jika orang ada yang memaksa kepingin tahu, maka saya akan katakan kalau saya adalah orang Kalimantan, tanpa menyebutkan lanjutannya. Karena memang saya merasa sudah menjadi orang Kalimantan. Dan saya tidak akan mengatakan Barat, Tengah, Selatan ataupun Timur. Karena saya sudah menyatu menjadi Kalimantan. Betapa tidak, saya benar – benar sudah menyatu, Bapak saya orang Kalimantan Selatan, Ibu saya orang Kalimantan Tengah, saya sejak kecil sudah lama di Kalimantan Timur dan Ibu sayapun kini tinggal di Calon Kalimantan Utara. Sempat saya dulu berolok – olok, mudah – mudahan dapat isteri orang Kalimantan Barat, biar saya benar – benar lengkap. Namun jodoh menentukan lain, saya harus menikah dengan Orang Jawa. Isteri saya itu campuran pula, Bapaknya Jombang, Ibunya Cilacap. Jadilah anak – anak saya mewarisi begitu banyak suku. Kalau Saya telah menjadi Suku Kalimantan, maka anak – anak saya telah meng-Indonesia. Kalau istilah ilmiahnya Berasimilasi. Oleh karena itu saya bukan berantipati kepada saudara – saudaraku yang membentuk berbagai macam Paguyuban Suku – suku, namun akan timbul pertanyaan mau masuk Paguyuban apa saya ini ? Dan orang seperti saya bukan hanya satu, tapi jumlahnya juga sudah jutaan orang. Begitu banyak anak – anak Indonesia yang dilahirkan dari hasil percampuran beragam suku yang ada di Indonesia. Dinamakan suku apakah kami ini ? kemanapun jelas tidak masuk, tapi kami adalah bagian tak terpisahkan. Misalnya saya, apakah lalu saya bisa disebut suku Bakap ( Banjar – Kapuas ) ? Anak saya disebut Bakapuja ( Banjar – Kapuas – Jawa ) ? Bagaimana jika Bapaknya Timor mamanya Jawa ? Apakah disingkat Morja ? Bagaimana Jika Bapaknya China mamanya Dayak ? apakah disebut Chinday ? Bingung kan ? Sementara darah tidak bisa sekedar dinisbatkan ke Ayah atau ke Ibu saja, tapi harus keduanya. Iya khan ? Nah, karena itu saya terus terang merasa “ Sakit Hati” jika ada orang suka membeda – bedakan suku dalam kehidupan ini. Menganggap suku tertentu pintar, pandai dan ahli, sementara suku lain dianggap bodoh, kasar dan tidak pandai berkerja. Dan Alhamdulillah sampai sekarang saya tidak pernah memilih suku dalam berteman, tidak pernah menganggap suku lain lebih rendah dari saya. Karena setiap manusia suku apapun dia tetap seorang manusia. Manusia yang sempurna selaku Kalifah dimuka bumi ini. Salam dari Suku Asimilasi. 22 Maret 2008. In one night.