Sabtu, 30 Mei 2009

KELUARGA DEKAT

Terkadang kita tidak sadar, bahwa kita memiliki keluarga dekat. Karena terfokusnya kita pada Ayah dan Ibu, kakak atau adik. Kita lupa kalau kita punya Paman dan Bibi. Punya adik sepupu atau kakak sepupu. Kita terkadang menganggap Ayah, Ibu, kakak dan Adik adalah keluarga yang kita miliki. Padahal diluar mereka kita punya paman, bibi, sepupu, ipar, kakek dan nenek. Sehingga dalam beberapa hal kita seringkali mengabaikan keberadaan mereka. Padahal mereka adalah keluarga dekat kita. Kalau kita melihat babak kehidupan Sang Nabi Agung Muhammad SAW, beliau sangat dekat dengan Paman dan bibi, sepupu, dan kakeknya. Beliau tahu persis apa itu yang namanya keluarga dekat. Hanya saja tidak semua anggota keluarga dekat itu memihak kepada Islam yang dibawanya. Sehingga memusuhi beliau bagaikan menemukan musuh di tengah padang tandus. Namun beliau tetap menjaga sikap beliau terhadap para keluarga dekat beliau.
Dengan kondisi dunia saat ini yang sedang menuju ke Trend individualitas alias anti keluarga, maka bisa kita bayangkan seperti apa dunia yang sedang kita huni saat ini. Gerakan kumpul kebo alias hidup tanpa ikatan pernikahan. Menikah tidak mau punya anak. Bahkan ada perempuan menikahi perempuan. Lelaki menikahi lelaki. Disatu sisi mereka tak ingin sendiri. Disisi lain sifat individualistik merekat erat. Dengan kondisi demikian apa mungkin terjadinya penciptaan keluarga yang lengkap ? Mungkinkah terjalin hubungan antar anggota keluarga dekat ? Semerawut kayak benang kusut.
Untunglah masih ada beberapa bangsa yang masih menghargai pentingnya keluarga. Masih menghargai paman dan bibi, masih mengenal kakek dan nenek. Masih menemui sepupu dan keponakan. Syukurlah.

Selasa, 26 Mei 2009

Kacung bangsa sendiri



Tulis Muhammad Yusni

Tanpa kita sadari bangsa kita telah mewarisi kebudayaan budak dari zaman dulu. Iya memang kita sudah merdeka. Tapi hingga hari ini masih banyak manusia yang belum bisa merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari kebutahurufan. Merdeka dari kegagalan menempuh pendidikan. Masih banyak manusia – manusia Indonesia yang terperangkap dalam kemiskinan dan kebodohan. Dua saudara kembar kegagalan peradaban yaitu kemiskinan dan kebodohan masih tetap menjadi topic idola bagi para surveyor dan kaum peneliti . Yang lucunya, kita bisa bebas dari bangsa lain yang menjajah Indonesia. Tetapi belum bebas dari dua saudara kembar tadi. Yang parahnya lagi, muncul manusia – manusia yang dari bangsa sendiri yang punya tabiat sok kuasa dan sok ngatur, sehingga merasa perlu memperbudak saudara sesama bangsa yang masih terbelenggu kemiskinan dan kebodohan tadi untuk dijadikan kacung.

Minggu, 24 Mei 2009

MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA DENGAN DUA ILHAM ?

Bisakah kita sepakat, bahwa manusia itu hanya bisa berihtiar, namun Allah jualah yang menentukan finishingnya. Semua kita bisa berencana ini dan itu. Kita semua bisa bermimpi ini dan itu. Kita semua bisa berangan – angan tentang apa saja. Namun tetap semua menunggu kehendak Tuhan. Memang Allah yang berkuasa atas kita semua. Berkuasa menentukan jalan hidup kita.
Allah yang mengilhamkan jalan kebenaran dan jalan kejahatan. Kalau Allah sudah menyesatkan seseorang atau kelompok, maka tidak akan ada yang bisa memberi petunjuk. Begitu pula kalau Allah sudah memberi petunjuk untuk bertaubat bagi seseorang, maka tidak akan ada yang menghalanginya. Dan itu sudah terbukti berkali – kali.
Kalau kita simak dari kisah – kisah menakjubkan yang dialami oleh para Mualaf yang tadinya kafir lalu masuk Islam karena mengakui kebenaran Islam. Mereka justeru menemukan Islam diantara tumpukan dogma – dogma dan ajaran – ajaran agama yang mereka geluti sehari –hari. Memang Iman itu benar – benar barang ajaib. Tidak semua orang bisa menemukannya. Bahkan orang islam yang sejak lahir saja belum tentu mau beriman. Ketika sebuah ajaran dalam islam tidak sesuai dengan hati nurani atau kebiasaan yang ada di masyarakat, maka apakah kita lalu menolak mengimaninya ? Padahal jika mau jujur dan berfikiran terbuka, sesungguhnya mana sih ajaran Islam yang tidak sesuai dengan hati Nurani.
Semisal Wajib Jilbab, hanya karena dimasyarakat banyak yang tidak berjilbab, apakah lalu kita menolak jilbab. Padahal jilbab itu jelas – jelas kewajibannya bagi wanita yang sudah baliq. Banyak kita temukan dijalan – jalan, siswi sebuah sekolah yang berlabel agama, malah dengan santainya keluyuran ke Mal – mal tanpa mengenakan jilbab. Bahkan memakai celana levis yang ketat dan baju kaos yang menampak lekuk payudaranya. Bahkan dengan gembira bergelanyutan dilengan pacarnya.
Yang ironisnya lagi ada siswi memakai Jilbab, namun asik mojok bersama pacarnya disalah satu sudut sekolah. Berpandangan dan saling membelai. Nauzubillah minzalik.
Lalu kembali kepada awal pembicaraan kita, apakah contoh – contoh tadi berhubungan dengan masalah kehendak Allah ? Jadi belum tentu seseorang yang bersekolah di Sekolah berlabel Islam, hari – hari dijejali ajaran Agama Islam, memiliki kekuatan iman yang mantap. Malahan ironisnya si siswa menjawab bahwa Pacaran adalah motivasi bagi belajar. Padahal fakta dilapangan justeru banyak siswa atau siswi yang hidup dan sekolahnya berantakan gara – gara berpacaran. Ada yang baru kelas II namun terpaksa berhenti sekolah dan menikah. Ada siswa yang terjun dari jembatan Mahakam gara – gara dicuekin si Pacar seharian. Fakta – fakta diatas banyak sekali kita temukan dalam realitas kehidupan, namun toh tetap saja banyak siswa yang mencoba – coba. Ataukah memang Allah sedang mencoba keimanan para siswa itu ? Bukankah Allah yang mengilhamkan jalan kebenaran dan jalan kesesatan ? Lalu kamu mau kemana sendiri mau kemana ?