Pertanyaan ini menarik, karena kalau kita telusuri Al-Qur'an + hadis + tafsir klasik, jawabannya ternyata lebih kompleks daripada sekadar “Ka'bah dibangun Nabi Ibrahim.”
1. Siapa yang pertama kali membangun Ka'bah?
Kalau berpegang secara ketat pada Al-Qur'an, Al-Qur'an tidak mengatakan bahwa Ibrahim adalah orang pertama yang meletakkan Ka'bah dari nol.
Yang dinyatakan dengan jelas adalah:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail...”
— QS. Al-Baqarah 2:127
Kata pentingnya adalah يَرْفَعُ الْقَوَاعِدَ — yarfa‘ul-qawā‘id, yaitu meninggikan/menaikkan fondasi yang sudah ada. (Quran.com)
Jadi, secara tekstual, ada kemungkinan fondasi atau tempat Baitullah sudah ada sebelumnya, kemudian Ibrahim dan Ismail membangun/meninggikan kembali bangunannya.
2. Lalu siapa yang membuatnya pertama kali?
Di sinilah terdapat beberapa pendapat dalam tradisi Islam.
Ada pendapat yang mengatakan:
Adam عليه السلام adalah orang pertama yang membangun Ka'bah.
Ada pula riwayat yang mengaitkannya dengan para malaikat, bahkan ada pendapat bahwa tempat tersebut telah ditetapkan sebelum Adam.
Tetapi kita harus hati-hati: Al-Qur'an sendiri tidak menyebut Adam sebagai pembangun pertama Ka'bah.
Bahkan dalam tafsir klasik, terdapat perbedaan pendapat mengenai maksud QS. Ali 'Imran 3:96. Al-Tabari mencatat adanya perbedaan pendapat tentang apakah Ka'bah merupakan bangunan pertama yang ada di bumi atau yang pertama didirikan sebagai tempat ibadah bagi manusia. (Quran.com)
3. Yang sangat jelas dari Al-Qur'an
QS. Ali 'Imran 3:96 mengatakan:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ
“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)...” (Quran.com)
Jadi Al-Qur'an memberikan status yang sangat tinggi kepada Ka'bah:
Ka'bah adalah Baitullah pertama yang diperuntukkan bagi manusia sebagai tempat ibadah.
Namun ayat itu tidak memberikan tahun pembangunannya dan tidak menyebut “dibangun pertama kali oleh Ibrahim.”
4. Lalu kapan Ibrahim membangun Ka'bah?
Ini lebih menarik.
Al-Qur'an tidak memberikan tanggal atau tahun.
Yang kita ketahui adalah bahwa Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi Baitullah, kemudian mereka berdoa:
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami...”
QS. Al-Baqarah 2:127. (Quran.com)
Jadi kita dapat mengatakan:
Ibrahim bukan sekadar tokoh yang berkaitan dengan Ka'bah; Al-Qur'an secara eksplisit menghubungkan Ibrahim dan Ismail dengan pembangunan/peninggian kembali Baitullah.
Tafsir Ibn Kathir juga menjelaskan ayat tersebut dalam konteks Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah. (Quran.com)
5. Tetapi ada satu hal yang menurut saya sangat menarik
Perhatikan urutannya:
Ka'bah → Ibrahim → Ismail → Makkah → Haji
Al-Qur'an kemudian mengatakan:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji...”
— QS. Al-Hajj 22:27
Artinya, dalam perspektif Al-Qur'an, sejarah Ka'bah jauh lebih tua daripada Nabi Muhammad ﷺ.
Bahkan jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad, Ka'bah sudah menjadi pusat ibadah yang sangat penting.
Jadi kalau kita membuat kronologi berdasarkan tingkat kepastian:
| Periode | Peristiwa | Kepastian |
|---|---|---|
| Masa sebelum Ibrahim | Ada pendapat bahwa fondasi/tempat Baitullah telah ada | Tidak dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur'an |
| Ibrahim & Ismail | Meninggikan fondasi Baitullah | Sangat jelas dalam Al-Qur'an |
| Setelah itu | Ka'bah menjadi pusat ibadah dan haji | Jelas dalam Al-Qur'an |
| Masa jahiliyah | Ka'bah tetap berdiri tetapi praktik penyembahan berhala masuk | Sejarah Islam yang kuat |
| Masa Nabi Muhammad ﷺ | Ka'bah dibersihkan dari berhala dan dikembalikan kepada tauhid | Sangat kuat |
Dan ada satu pertanyaan yang jauh lebih menarik:
Kalau Al-Qur'an mengatakan Ibrahim “meninggikan fondasi” Ka'bah, berarti siapa yang membangun fondasi itu sebelum Ibrahim?
Nah, di sinilah persoalannya menjadi sangat menarik, karena kita bisa membandingkan:
Al-Qur'an → hadis → tafsir Ibnu Abbas → riwayat tentang Nabi Adam → sejarah Makkah → bukti arkeologi.
Kalau Anda mau, saya bisa telusuri khusus pertanyaan ini secara mendalam: “SIAPA YANG MEMBANGUN KA'BAH SEBELUM NABI IBRAHIM?”, termasuk riwayat Nabi Adam, malaikat, Nabi Syits, dan Ibrahim, lalu kita pisahkan mana yang sahih, dhaif, dan hanya legenda, serta apakah ada kemungkinan sejarah/arkeologi memberikan petunjuk.
please, saya pernah dengar, kabah pernah mengalami kerusakan akibat banjir sehingga rusak, sehingga di zaman ibrahim harus di tinggikan pondasinya dan di perbaiki
Ya, yang Anda ingat itu memang punya dasar dalam tradisi tafsir Islam, tetapi ada satu hal penting yang perlu kita bedakan: banjir yang menghancurkan Ka'bah sebelum zaman Ibrahim bukanlah fakta yang dinyatakan secara eksplisit oleh Al-Qur'an atau hadis sahih. Ada riwayat tafsir yang menceritakannya.
Yang menarik, setelah saya cek beberapa sumber, gambarnya menjadi lebih jelas.
1. Al-Qur'an memang mengatakan Ibrahim “meninggikan fondasi”
QS. Al-Baqarah 2:127 menyebut:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail...”
Jadi istilah “meninggikan fondasi” memang berasal langsung dari Al-Qur'an. (Quran.com)
2. Ada riwayat tentang bangunan sebelumnya yang kemudian hilang karena banjir
Dalam sebagian literatur tafsir, terdapat riwayat bahwa Ka'bah telah ada sebelum Ibrahim, kemudian bangunan tersebut hancur pada masa banjir besar pada zaman Nabi Nuh, sehingga jejak bangunannya hilang. Kemudian Ibrahim dan Ismail membangunnya kembali di atas fondasi tersebut.
Salah satu ringkasan tafsir yang memuat riwayat ini menyebut bahwa bangunan yang dikaitkan dengan Adam bertahan sampai zaman Nuh, kemudian runtuh akibat banjir, dan setelah itu Ibrahim membangunnya kembali pada fondasi yang sama. (Quran.com)
Tetapi: riwayat tersebut tidak boleh kita naikkan statusnya menjadi “hadis sahih yang pasti terjadi”. Bahkan para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Ka'bah secara fisik sudah dibangun sebelum Ibrahim. Ada ulama yang menilai riwayat-riwayat tentang pembangunan oleh Adam dan kehancuran akibat banjir tidak memiliki sanad yang kuat. (Islam.wiki)
3. Jadi ingatan Anda sebenarnya sangat dekat dengan salah satu tradisi tafsir
Gambaran sederhananya menjadi:
Adam → bangunan Baitullah → banjir besar zaman Nuh → bangunan hilang/rusak → Ibrahim & Ismail menemukan/meninggikan fondasi → Ka'bah dibangun kembali.
Tetapi bagian Adam → banjir Nuh → Ka'bah hancur adalah riwayat yang diperdebatkan, sedangkan:
Ibrahim & Ismail → meninggikan fondasi Baitullah
adalah teks Al-Qur'an yang jelas.
4. Dan yang menarik: Ka'bah memang terbukti berkali-kali mengalami kerusakan karena banjir
Ini bukan sekadar cerita.
Dalam sejarah Makkah yang terdokumentasi, banjir memang berkali-kali masuk ke Masjidil Haram dan bahkan mencapai Ka'bah. Ada catatan banjir besar yang menyebabkan kerusakan bangunan dan rumah-rumah di sekitar Masjidil Haram. (dorar.net)
Bahkan pada 1626 M, banjir besar menyebabkan sebagian dinding Ka'bah runtuh dan kemudian Ka'bah dibangun kembali. (Wikipedia)
Jadi secara geografis dan historis, sangat masuk akal bahwa bangunan di Makkah memang rentan terhadap banjir.
Namun kita tidak boleh mengambil fakta banjir pada masa-masa yang terdokumentasi itu lalu mengatakan otomatis bahwa banjir pada zaman Nuh menghancurkan Ka'bah. Itu dua hal berbeda.
5. Ada bukti yang lebih kuat bahwa “fondasi Ibrahim” memang merupakan konsep yang dikenal sejak masa Nabi Muhammad
Ini justru sangat menarik.
Nabi Muhammad ﷺ pernah mengatakan kepada Aisyah bahwa kalau bukan karena kaumnya baru saja meninggalkan kekufuran, beliau akan meruntuhkan Ka'bah dan membangunnya kembali di atas fondasi Ibrahim, sekaligus mengubah bentuk pintunya dan memasukkan bagian Hijr ke dalam bangunan. Riwayat ini terdapat dalam Sahih Muslim dan Sunan an-Nasa'i. (Sunnah.com)
Artinya, konsep “fondasi Ibrahim” bukan muncul belakangan dari cerita modern.
Dan ketika Quraisy membangun kembali Ka'bah sebelum masa kenabian Muhammad, mereka tidak mempertahankan seluruh ukuran/area yang diyakini sebagai fondasi Ibrahim. Karena itu, Hijr Ismail yang sekarang berada di luar dinding Ka'bah dipercaya sebagai bagian dari area bangunan yang dahulu termasuk dalam konstruksi yang lebih luas. (Saudi Press Agency)
Jadi saya akan mengoreksi sedikit jawaban saya sebelumnya
Sebelumnya saya mengatakan:
“Tidak diketahui siapa yang membuat fondasi sebelum Ibrahim.”
Itu terlalu sederhana.
Jawaban yang lebih tepat adalah:
Dalam tradisi Islam memang terdapat riwayat bahwa Baitullah telah ada sebelum Ibrahim dan kemudian mengalami kehancuran, termasuk riwayat yang mengaitkannya dengan banjir pada zaman Nuh. Setelah itu Ibrahim dan Ismail membangunnya kembali/meninggikan fondasinya. Tetapi bagian sejarah sebelum Ibrahim tersebut tidak memiliki tingkat kepastian yang sama dengan pernyataan Al-Qur'an tentang Ibrahim dan Ismail.
Dan menurut saya, justru kata “يَرْفَعُ الْقَوَاعِدَ — yarfa‘ul-qawā‘id” dalam QS. 2:127 adalah bagian yang sangat layak kita teliti lebih dalam.
Karena pertanyaannya menjadi:
Kalau Ibrahim “meninggikan fondasi”, apakah Al-Qur'an sengaja memberi petunjuk bahwa sebelum Ibrahim sudah ada struktur/fondasi Baitullah?
Kalau Anda tertarik, saya bisa lanjutkan dengan penelitian mendalam terhadap kata “al-qawā‘id” dalam seluruh Al-Qur'an, hadis sahih, Tafsir Ibnu Abbas, At-Tabari, Ibnu Katsir, dan riwayat tentang banjir Nabi Nuh, untuk melihat seberapa kuat sebenarnya teori bahwa Ka'bah sudah ada sebelum Ibrahim.
kalau berdasarkan usia karbon apakah bisa ditemukan tahun dibangunnya
Bisa dicoba, tetapi tidak sesederhana mengambil batu Ka'bah lalu melakukan Carbon-14. Justru kalau penelitian seperti ini dilakukan dengan benar, kita mungkin bisa mendapatkan batas umur beberapa tahap pembangunan Ka'bah, bukan langsung mendapatkan kalimat “Ka'bah dibangun tahun sekian oleh Ibrahim.”
Ada metode yang sangat menarik untuk kasus ini.
1. Batu Ka'bah sendiri hampir tidak bisa di-carbon dating
Carbon-14 bekerja pada material yang mengandung karbon yang pernah berinteraksi dengan atmosfer, terutama bahan organik.
Batu kapur yang menjadi bahan bangunan adalah material geologis yang jauh lebih tua daripada bangunan. Kalau batu tersebut dites C-14, hasilnya tidak memberi umur kapan batu itu dipasang sebagai Ka'bah.
Jadi misalnya batu berasal dari jutaan tahun lalu, itu bukan berarti Ka'bah berumur jutaan tahun.
2. Tetapi mortar/kapur perekatnya bisa menjadi sangat menarik
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Mortar kapur dibuat dari batu kapur yang dibakar menjadi kapur, kemudian ketika digunakan dalam bangunan, kapur tersebut menyerap CO₂ dari atmosfer dan mengalami karbonasi.
Dengan demikian, secara prinsip, karbon yang masuk pada saat mortar mengeras dapat digunakan untuk memperkirakan kapan mortar tersebut dibuat dan mengeras. Metode ^14C untuk mortar sudah dikembangkan sejak 1960-an dan masih digunakan dalam penelitian arkeologi modern. (Nature)
Jadi secara sederhana:
batu → tidak cocok
mortar kapur asli → berpotensi cocok
arang/serat tumbuhan yang tertanam dalam mortar → berpotensi sangat cocok
3. Bahkan ada penelitian modern yang berhasil melakukan ini
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mortar kuno dapat diberi tanggal menggunakan ^14C, tetapi sampelnya harus dipilih dan dimurnikan dengan sangat hati-hati. Peneliti menggunakan kombinasi analisis mineralogi, mikroskopi, isotop stabil, dan teknik pemisahan untuk memastikan karbon yang diukur benar-benar berasal dari binder kapur saat konstruksi, bukan dari batu kapur tua atau karbon yang masuk kemudian. (Nature)
Ini penting sekali untuk Ka'bah.
4. Nah, kalau diterapkan pada Ka'bah, kita bisa mendapatkan sesuatu yang sangat menarik
Bayangkan dilakukan penelitian seperti ini:
Sampel A: mortar dari bagian paling tua yang masih tersisa
Sampel B: mortar dari bagian tengah struktur
Sampel C: mortar dari renovasi tertentu
Sampel D: material dari bagian fondasi
Sampel E: material dari dinding bagian atas
Kemudian semuanya dianalisis dengan:
AMS-¹⁴C + analisis isotop + mineralogi + mikroskopi + stratigrafi bangunan.
Hasilnya mungkin menghasilkan pola seperti:
Fondasi: X–Y SM
Lapisan pembangunan berikutnya: X–Y SM
Renovasi berikutnya: X–Y SM
Dan dari situ kita dapat mengetahui urutan fase pembangunan.
5. Tetapi ada satu masalah besar: Ka'bah sudah berkali-kali direnovasi
Ini justru tantangan terbesar.
Ka'bah mengalami pembangunan dan perbaikan pada berbagai periode sejarah. Jadi kalau kita mengambil mortar dari dinding yang sekarang terlihat, belum tentu itu berasal dari zaman Ibrahim.
Bahkan Nabi Muhammad ﷺ pernah menjelaskan kepada Aisyah bahwa Ka'bah yang dibangun Quraisy tidak seluruhnya mengikuti fondasi Ibrahim, dan beliau menyatakan keinginan untuk membangunnya kembali sesuai fondasi Ibrahim seandainya tidak mempertimbangkan keadaan masyarakat saat itu. Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih Muslim.
Dengan kata lain, kita harus mencari lapisan konstruksi yang paling tua, bukan sekadar mengambil sampel dari bangunan yang sekarang.
6. Dan di sinilah pertanyaan Anda sebelumnya menjadi sangat menarik
Anda tadi mengangkat:
“Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah.”
Kalau suatu hari arkeolog mendapatkan akses penelitian terhadap struktur bawah Ka'bah dan menemukan beberapa lapisan konstruksi, kita secara teoritis bisa mendapatkan:
Lapisan paling bawah → bangunan lebih tua
↓
lapisan berikutnya → renovasi
↓
lapisan berikutnya → masa Ibrahim?
↓
lapisan berikutnya → Quraisy
↓
lapisan berikutnya → renovasi Islam
Dan masing-masing lapisan dapat dibandingkan dengan ^14C, stratigrafi, sejarah, dan data geologi.
Yang paling menarik:
Kalau ternyata lapisan konstruksi paling bawah menghasilkan tanggal jauh lebih tua daripada periode yang secara tradisional dikaitkan dengan Ibrahim, itu tidak otomatis membuktikan Adam yang membangunnya.
Tetapi secara ilmiah akan menunjukkan:
“Ada fase konstruksi Baitullah yang lebih tua daripada fase Ibrahim.”
Itu sudah merupakan penemuan sejarah yang sangat besar.
Sebaliknya, kalau lapisan tertua yang dapat diverifikasi ternyata berada pada periode yang sesuai dengan masa Ibrahim, maka klaim tentang bangunan pra-Ibrahim akan menjadi jauh lebih sulit dibuktikan secara material.
7. Ada satu metode lain yang bahkan sangat penting: OSL
Selain ^14C, para peneliti juga dapat mempertimbangkan Optically Stimulated Luminescence (OSL) pada material tertentu.
OSL dapat membantu menentukan kapan mineral tertentu terakhir kali terkena cahaya atau mengalami proses tertentu. Teknik ini sekarang juga digunakan dalam penelitian kronologi bangunan bersejarah bersama radiokarbon. (Nature)
Jadi penelitian ideal terhadap Ka'bah bukan hanya:
“Carbon dating.”
Melainkan:
AMS-¹⁴C
OSL
stratigrafi bangunan
petrografi mortar
isotop karbon
analisis mineral
arsitektur historis
riwayat Islam
Barulah kita memperoleh kronologi yang jauh lebih kuat.
Dan saya kira ini justru pertanyaan penelitian yang sangat menarik:
“Apakah terdapat bukti material bahwa struktur Baitullah telah ada sebelum pembangunan/peninggian fondasi oleh Ibrahim dan Ismail?”
Itu jauh lebih ilmiah daripada langsung mencoba membuktikan “Adam membangun Ka'bah.”
Kalau Anda mau, saya bisa telusuri apakah sampai September 2026 sudah pernah ada penelitian ilmiah yang benar-benar mengambil sampel material Ka'bah untuk Carbon-14/AMS atau OSL, siapa penelitinya, kapan dilakukan, dan apa hasilnya. Ini menarik karena kita bisa melihat apakah penelitian semacam itu sudah pernah dilakukan atau justru belum pernah dilakukan sama sekali.
Bisa—tetapi saya tidak bisa secara langsung “memerintahkan” atau menghubungi para ahli tanpa adanya institusi/peneliti yang menjadi mitra. Yang bisa saya lakukan adalah membantu Anda membuat proposal penelitian yang cukup serius untuk diajukan kepada laboratorium radiokarbon, universitas, arkeolog, atau otoritas Saudi.
Dan menurut saya, gagasannya layak diajukan secara ilmiah.
Yang lebih tepat bukan meminta mereka “meng-carbon-date batu Ka'bah”, melainkan:
Penelitian kronologi konstruksi Ka'bah menggunakan AMS radiocarbon dating terhadap mortar kapur yang terverifikasi, dikombinasikan dengan analisis mineralogi, isotop, stratigrafi, dan bila memungkinkan OSL.
Radiocarbon dating pada mortar kapur memang merupakan metode yang telah dikembangkan dan digunakan untuk menentukan waktu pengerasan mortar, sehingga dapat membantu menentukan fase konstruksi atau renovasi bangunan kuno. (Wiley Online Library)
Justru saya menyarankan penelitian ini dibuat sangat netral
Jangan proposalnya berbunyi:
“Buktikan bahwa Ka'bah dibangun sebelum Nabi Ibrahim.”
Tetapi:
“Determine the absolute chronology of the surviving structural phases of the Kaaba.”
Dengan demikian, penelitian tidak memaksakan kesimpulan agama maupun sejarah terlebih dahulu.
Sampel yang paling penting
Peneliti sebaiknya tidak hanya mengambil satu sampel. Idealnya dibuat multi-sampling dari material yang secara resmi boleh diteliti:
mortar/filler dari struktur tertua yang masih dapat diakses;
mortar dari fondasi;
mortar dari beberapa lapisan konstruksi;
material dari renovasi yang tanggal sejarahnya sudah diketahui;
material organik yang benar-benar in situ, bila tersedia.
Kemudian hasilnya dibandingkan.
Ini penting karena mortar memiliki masalah “dead carbon”, kontaminasi, rekristalisasi, dan agregat batu kapur yang dapat membuat hasil terlihat jauh lebih tua daripada umur konstruksi sebenarnya. Karena itu penelitian modern merekomendasikan karakterisasi mineralogi dan pemisahan fraksi karbon sebelum AMS-¹⁴C. (Wiley Online Library)
Bahkan kita bisa membuat penelitian ini menjadi “blind study”
Menurut saya ini akan jauh lebih kuat.
Laboratorium diberikan sampel dengan kode:
K-01, K-02, K-03, K-04...
tanpa diberi tahu terlebih dahulu:
“Ini diduga zaman Ibrahim.”
Mereka hanya diberi informasi mengenai lokasi dan jenis material.
Setelah hasil keluar, barulah dibandingkan dengan:
kronologi sejarah Makkah;
pembangunan Quraisy;
renovasi pada masa Abdullah ibn al-Zubair;
renovasi berikutnya;
catatan sejarah Islam;
dan tradisi mengenai “al-qawā‘id” atau fondasi Baitullah.
Dengan cara seperti itu, hasilnya akan jauh lebih sulit dituduh sebagai penelitian yang diarahkan untuk membenarkan suatu keyakinan.
Dan ada pertanyaan ilmiah yang sangat menarik
Misalnya hasilnya menunjukkan:
Lapisan A → abad tertentu
Lapisan B → lebih tua
Lapisan C → lebih tua lagi
Kalau ditemukan lapisan konstruksi yang secara meyakinkan jauh lebih tua daripada periode Ibrahim, kita belum boleh mengatakan:
“Ini pasti bangunan Nabi Adam.”
Tetapi kita sudah mempunyai fakta ilmiah:
“Terdapat fase konstruksi Baitullah yang mendahului fase yang secara tradisional dikaitkan dengan Ibrahim.”
Itu sendiri akan menjadi penemuan yang luar biasa.
Sebaliknya, jika lapisan tertua ternyata konsisten dengan periode Ibrahim, maka hipotesis bangunan pra-Ibrahim menjadi jauh lebih sulit dipertahankan secara arkeologis.
Inilah keindahan penelitian ilmiah: kita biarkan sampelnya yang menjawab.
Dan metode mortar dating memang sudah memiliki protokol penelitian yang cukup matang, walaupun tidak selalu berhasil; pemilihan sampel dan pemurnian karbon adalah bagian yang sangat kritis. (Taylor & Francis Online)
Kalau Anda serius ingin mendorong gagasan ini, saya bisa bantu membuat “Proposal Penelitian Internasional: The Absolute Chronology of the Kaaba” lengkap dengan latar belakang Al-Qur'an QS 2:127 dan QS 3:96, pertanyaan penelitian, hipotesis yang netral, metode AMS-¹⁴C + OSL, jenis sampel, protokol blind testing, calon universitas/laboratorium yang relevan, dan surat resmi untuk diajukan kepada otoritas Arab Saudi.
kemungkinan kabah ini sudah jauh dibangun, ingat salah satu dongeng chineses tentang Pendeta bersama Monkey King yang berangkat menuju ke arah matahari tenggelam - dimana ternyata itu adalah arah lokasi Kakbah-untuk menemukan kitab kebenaran ???
Ya, saya menangkap arah pemikiran Anda. Ada hubungan yang menarik, tetapi kita harus berhati-hati agar tidak melompat dari “arah barat” menjadi “berarti Ka'bah.”
Yang Anda maksud hampir pasti adalah Kisah Perjalanan ke Barat (Xiyouji / 西游记), dengan pendeta Tang Sanzang/Xuanzang dan Sun Wukong (Monkey King).
Ada satu fakta yang sangat menarik
Kisah itu memang berakar pada perjalanan nyata seorang pendeta Buddha Tiongkok bernama Xuanzang, yang hidup sekitar 602–664 M. Ia melakukan perjalanan dari Tiongkok ke India untuk mencari dan membawa pulang kitab-kitab Buddhis. Catatan perjalanannya dikenal sebagai Great Tang Records on the Western Regions. (Asian Studies Association)
Namun Monkey King, Zhu Bajie, Sha Wujing, dan berbagai monster adalah unsur sastra/fantasi yang berkembang kemudian. Novel Journey to the West dalam bentuk terkenalnya baru muncul pada abad ke-16, meskipun cerita tentang Xuanzang sudah beredar berabad-abad sebelumnya. (Wikipedia)
Dan ini penting sekali:
“Kitab kebenaran” yang mereka cari bukan Al-Qur'an dan tujuan sejarahnya bukan Makkah.
Xuanzang pergi ke India, pusat penting pembelajaran Buddhisme pada masa itu, untuk memperoleh sutra dan mempelajari ajaran Buddha. Catatan sejarah menunjukkan ia melewati Asia Tengah, Afghanistan, Gandhara, kemudian memasuki India dan belajar di pusat-pusat Buddhis seperti Nalanda. (Wikipedia)
Jadi kalau kita membuat peta:
Chang'an (China)
↓
Asia Tengah
↓
Afghanistan
↓
India
↓
pusat pembelajaran Buddhisme
bukan:
China → Makkah → Ka'bah.
Tetapi pertanyaan Anda tetap menarik: mengapa disebut “ke Barat”?
Karena dalam pandangan geografis Tiongkok kuno, India memang berada di sebelah barat Tiongkok.
Istilah Xiyu (西域) — “Wilayah Barat” — digunakan dalam sumber-sumber Tiongkok untuk wilayah yang berada di sebelah barat Tiongkok, terutama Asia Tengah, dan dalam konteks tertentu dapat mencakup India. (Wikipedia)
Jadi kalimat:
“Pergi ke Barat untuk mencari kitab kebenaran”
secara historis sangat cocok dengan perjalanan Xuanzang menuju India.
Tetapi saya justru melihat pertanyaan yang lebih menarik dari yang Anda ajukan
Anda sedang mencoba menghubungkan tradisi Tiongkok tentang “Barat sebagai tempat pengetahuan/kebenaran” dengan pertanyaan kita sebelumnya:
Apakah ada kemungkinan pusat keagamaan yang sangat tua di sebelah barat Asia telah dikenal jauh sebelum periode Ibrahim?
Itu pertanyaan yang sah untuk diteliti.
Tetapi kita perlu memisahkan tiga lapisan sejarah:
LAPISAN 1 — Sejarah Xuanzang
Ini sangat kuat.
Xuanzang benar-benar hidup dan melakukan perjalanan ke India pada abad ke-7. (Wikipedia)
LAPISAN 2 — Novel Journey to the West
Ini sastra.
Versi terkenalnya berasal dari abad ke-16 dan memasukkan Sun Wukong serta berbagai unsur supernatural. (Asian Studies Association)
LAPISAN 3 — Ka'bah sebagai lokasi tujuan kuno
Ini tidak bisa kita simpulkan dari Journey to the West.
Tidak ada bukti yang saya temukan bahwa Xuanzang atau tradisi awal Xiyouji mengatakan:
“Kami pergi ke barat menuju Ka'bah.”
Justru sumber sejarah yang tersedia mengidentifikasi tujuan Xuanzang sebagai India dan pusat-pusat pembelajaran Buddhis.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya sangat layak kita telusuri
Kalau tujuan Anda sebenarnya adalah mencari bukti bahwa keberadaan Ka'bah/Makkah mungkin telah diketahui oleh peradaban jauh sebelum masa Ibrahim, maka kisah Xuanzang bukan jalur bukti terbaik.
Jalur penelitian yang jauh lebih kuat adalah mencari:
Catatan Tiongkok kuno → peta dunia kuno → jalur perdagangan → Arabia → Makkah → bangunan suci di Arabia.
Misalnya kita bisa mencari:
apakah sumber Tiongkok sebelum Islam menyebut Arabia Barat;
apakah ada catatan tentang Makkah;
apakah ada catatan tentang rumah suci di Arabia;
apakah pedagang Tiongkok pernah berhubungan dengan Hijaz;
kapan nama Makkah pertama kali muncul dalam sumber non-Arab;
apakah sumber Bizantium, Persia, India, atau Tiongkok menyebut tempat tersebut;
dan yang paling penting: apakah ada bukti bahwa tempat suci itu sudah ada jauh sebelum abad ke-7.
Dan ini bisa menjadi sangat menarik untuk penelitian kita sebelumnya.
Kita bisa membuat “Timeline Ka'bah sebelum Ibrahim”:
± ? SM — kemungkinan awal Baitullah
↓
masa Nuh?
↓
masa Ibrahim & Ismail
↓
periode Arab kuno
↓
Quraisy
↓
Nabi Muhammad ﷺ
↓
Islam
Kemudian setiap titik kita beri label:
🟢 bukti kuat
🟡 riwayat/tradisi
🔴 spekulasi
Dengan begitu kita tidak mencampur Al-Qur'an, hadis, legenda Tiongkok, mitologi, dan bukti arkeologi menjadi satu.
Kalau Anda setuju, saya bisa melakukan penelitian yang jauh lebih menarik: mencari semua catatan non-Islam paling tua tentang Makkah/Ka'bah — Tiongkok, Yunani-Romawi, Persia, India, Nabatea, Bizantium, dan sumber Arab pra-Islam — lalu kita susun kronologi untuk menjawab pertanyaan: “Seberapa tua sebenarnya pengetahuan manusia tentang Ka'bah?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar